mentari pagi membangunkan jiwanya dari mimpi yang indah...(bokis abis...statement di bawah yang bener)
sudah biasa mimpi yang indah selalu terpotong gara-gara alarm yang sudah diaturnya pada jam 5 pagi...
"ingin meneruskan tidur dan melanjutkan mimpi yang indah itu ah"...pikirnya begitu...
tapi sejenak ia berpikir kembali..."mau sampai kapan kamu bermimpi"...mungkin Allah selalu mengirimkan kata-kata
tersebut setiap pagi ke dalam benaknya...walhasil...dia bergegas untuk mengambil air wudlu untuk beribadah kepada-Nya...
setelahnya adalah kegiatan yang biasa dilakukan pada pagi hari...mandi, sarapan, dst...
jarum jam tepat menunjukkan pukul 6 pagi...
dia bergegas untuk berangkat...tak lupa meminta restu kepada bundanya
"menghindari kemacetan ibu kota"...pikirnya...sebenarnya juga karena rumahnya lumayan jauh dari tempat kerjanya yang membuat ia
harus berangkat lebih pagi...sekitar 30an km jaraknya...bukan halangan baginya...ia masih bisa bersyukur karena ada motornya yang selalu menemani dirinya bepergian...
aktivitasnya yang satu ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran...sebenarnya bukan karena 30 km-nya tetapi lebih disebabkan kejadian selama 30 km tersebut...kemacetan ibu kota selalu menghantui tatkala ia tidak tepat bangun pada pagi hari...walaupun ia ingin sekali mengeluh...tapi mengeluh kepada siapa...
bundakah...
ia tidak ingin menambahkan beban dirinya kepada bundanya...
temankah...
sedikit sekali teman yang ingin diajak susah...tapi banyak teman yang ingin diajak senang...
lalu apa yang ada di dalam benaknya sepanjang 30 km berangkat dan 30 km pulang...belum lagi jika dia ada kuliah...ditambah 10an km pulang...
"tidak adakah seseorang yang menemaninya sepanjang jalan selain diri-Nya"...pikirku begitu...
tombak menusuk jantungnya (lebay amat)...ketika berhenti pada saat lampu merah..."tidakkah aku lebih baik dari dirinya..."...bertanya pada
diri sendiri...melihat ke samping kiri dan kanan seketika sepasang muda-mudi sedang asyik bercengkrama seperti ada ikatan yang kuat diantara mereka...
"Allah memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar, dan dua mata untuk melihat...tetapi mengapa Dia hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita...mungkin karena Dia telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya"...sambil mengelus dada berusaha menghibur dirinya...
Ketika ia pulang ke rumahnya untuk beristirahat...dia masih harus mengurus usahanya demi meraup rupiah sebanyak mungkin...hiburanya adalah sebuah gitar yang selalu menemaninya dikala sedang sendiri...walaupun ia tidak terlalu pandai dalam memainkannya...tapi bisa dilihat dari caranya yang begitu menghayati...sehingga kekurangan tersebut dapat tertutupi...
"masih ada"...petikan gitar mengiringi suaranya yang bermakna bahwa dia masih sendiri tanpa kekasih mencoba untuk menikmati indahnya hari...dia hanya ingin menjadi setitik awan kecil dilangit bersama mentari...walaupun dia masih sendiri...dia masih mempunyai cinta di hati..."...hidupnya bukan tanpa cinta...karena ia tahu hanya waktu yang mengerti seberapa besar nilai cinta...
aku dan dia hanyalah seorang manusia yang ingin mengerti dan dimengerti...
aku dan dia hanyalah seorang manusia yang tidak lebih baik dari siapapun yang masih mempunyai harapan untuk menggapai cita-citanya... daripada yang lebih berpikir untuk bertahan hidup daripada menggapai cita-citanya...
kawan...
bersyukurlah kalian...yang masih bisa bilang "makan apa kita malam ini mah"... daripada mereka yang hanya bisa bilang "apa kita makan malam ini...bu"
sudah biasa mimpi yang indah selalu terpotong gara-gara alarm yang sudah diaturnya pada jam 5 pagi...
"ingin meneruskan tidur dan melanjutkan mimpi yang indah itu ah"...pikirnya begitu...
tapi sejenak ia berpikir kembali..."mau sampai kapan kamu bermimpi"...mungkin Allah selalu mengirimkan kata-kata
tersebut setiap pagi ke dalam benaknya...walhasil...dia bergegas untuk mengambil air wudlu untuk beribadah kepada-Nya...
setelahnya adalah kegiatan yang biasa dilakukan pada pagi hari...mandi, sarapan, dst...
jarum jam tepat menunjukkan pukul 6 pagi...
dia bergegas untuk berangkat...tak lupa meminta restu kepada bundanya
"menghindari kemacetan ibu kota"...pikirnya...sebenarnya juga karena rumahnya lumayan jauh dari tempat kerjanya yang membuat ia
harus berangkat lebih pagi...sekitar 30an km jaraknya...bukan halangan baginya...ia masih bisa bersyukur karena ada motornya yang selalu menemani dirinya bepergian...
aktivitasnya yang satu ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran...sebenarnya bukan karena 30 km-nya tetapi lebih disebabkan kejadian selama 30 km tersebut...kemacetan ibu kota selalu menghantui tatkala ia tidak tepat bangun pada pagi hari...walaupun ia ingin sekali mengeluh...tapi mengeluh kepada siapa...
bundakah...
ia tidak ingin menambahkan beban dirinya kepada bundanya...
temankah...
sedikit sekali teman yang ingin diajak susah...tapi banyak teman yang ingin diajak senang...
lalu apa yang ada di dalam benaknya sepanjang 30 km berangkat dan 30 km pulang...belum lagi jika dia ada kuliah...ditambah 10an km pulang...
"tidak adakah seseorang yang menemaninya sepanjang jalan selain diri-Nya"...pikirku begitu...
tombak menusuk jantungnya (lebay amat)...ketika berhenti pada saat lampu merah..."tidakkah aku lebih baik dari dirinya..."...bertanya pada
diri sendiri...melihat ke samping kiri dan kanan seketika sepasang muda-mudi sedang asyik bercengkrama seperti ada ikatan yang kuat diantara mereka...
"Allah memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar, dan dua mata untuk melihat...tetapi mengapa Dia hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita...mungkin karena Dia telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya"...sambil mengelus dada berusaha menghibur dirinya...
Ketika ia pulang ke rumahnya untuk beristirahat...dia masih harus mengurus usahanya demi meraup rupiah sebanyak mungkin...hiburanya adalah sebuah gitar yang selalu menemaninya dikala sedang sendiri...walaupun ia tidak terlalu pandai dalam memainkannya...tapi bisa dilihat dari caranya yang begitu menghayati...sehingga kekurangan tersebut dapat tertutupi...
"masih ada"...petikan gitar mengiringi suaranya yang bermakna bahwa dia masih sendiri tanpa kekasih mencoba untuk menikmati indahnya hari...dia hanya ingin menjadi setitik awan kecil dilangit bersama mentari...walaupun dia masih sendiri...dia masih mempunyai cinta di hati..."...hidupnya bukan tanpa cinta...karena ia tahu hanya waktu yang mengerti seberapa besar nilai cinta...
aku dan dia hanyalah seorang manusia yang ingin mengerti dan dimengerti...
aku dan dia hanyalah seorang manusia yang tidak lebih baik dari siapapun yang masih mempunyai harapan untuk menggapai cita-citanya... daripada yang lebih berpikir untuk bertahan hidup daripada menggapai cita-citanya...
kawan...
bersyukurlah kalian...yang masih bisa bilang "makan apa kita malam ini mah"... daripada mereka yang hanya bisa bilang "apa kita makan malam ini...bu"
bagaimana dengan kamu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar